Ada hal yang yang membuat pulang kampung saya minggu lalu terasa lebih dari biasanya. Yaitu petuah Sutaryo, paman saya yang juga carik desa soal demokrasi.
Dia bilang begini. Bahkan Tuhan pun sangat demokratis. Lihat kasus Isra Mi’raj. Ketika mi’raj, awalnya Tuhan memerintahkan shalat sebanyak 50 (?) rakaat. Kanjeng Nabi Muhammad manawar jumlah rakaat itu diturunkan dengan alasan umat Muhammad tidak akan kuat. Tawar menawar itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya disepakati shalat hanya 5 rakaat.
Dia meneruskan. Kau tahu, katanya. Bahkan Muhammad juga menziarahi ruh-ruh para nabi terdahulu, untuk sekedar bertanya berapa kira-kira jumlah rakaat yang pas untuk umatnya. Apa artinya? Artinya adalah pemimpin itu ada baiknya bertanya kepada pemimpin terdahulu kalau mau melakukan sesuatu. Sekarang mana ada presiden yang mau berbaik-baik dengan presiden terdahulu?
Hmmm, mengingatkan saya pada Wimar Witoelar.

7 comments
Comments feed for this article
September 1, 2008 pada 4:09 am
bitra
Perlukah calon presiden sekarang berkomunikasi dengan ruh-ruh para presiden terdahulu? Biar Indonesia semakin sejahtera maksudnya…
September 1, 2008 pada 4:17 am
dwijoko
Hehehe. Aku menangkap spirit petuah itu ialah : “berdamai dengan sejarah”. Sudahlah tidak perlu lagi ada dikotomi orba dan orla, tua dan muda, pra dan pasca reformasi, dan semacamnya. Kitu tah meureun.
September 12, 2008 pada 5:18 am
siwi
Maaf, ini Joko Dagan yang dulu paling pinter sak SMP N I Bobotsari itu kan? Perjalanan hidup dan batinmu sungguh luar biasa…Salut!
September 12, 2008 pada 8:12 am
dwijoko
Wow! Betul, tapi bukan yang paling pinter. Dan ini
Siwi Tri Puji yang dulu suka berambut panjang kepang
kuda, dan (pasti) datang paling pagi karena berumah di
samping kanan kampus SMP 1 Bobotsari itukah?
Trims sudah mampir. Apa kabar? Dimana sekarang? Saya
di Bandung. Aku sempat menemukan namamu di box redaksi
Republika. Masih di situkah?
Oktober 14, 2008 pada 4:45 pm
djeeper
Salam kenal Mas, tulisan yang menarik…. Anday saja Pemimpin kita mau terus belajar dan belajar
Oktober 15, 2008 pada 2:05 pm
lida
Ooo, Mas Dwi ini siswa paling pinter toooh… Hihihi.
Oktober 28, 2008 pada 12:12 pm
Zhafira
Jadi teringat ceramah-ceramahnya jainudin mz.
by: Zhafira