You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2008.

Dedy Mizwar, aktor besar itu, bisa terjebak juga. Selama bulan puasa 1429 H, saya kira sinetron garapannya, Para Pencari Tuhan Jilid 2, tak sebaik edisi pertama. Masih menarik memang. Saya masih melihat Islam yang hidup, Islam yang santai, sederhana, dan menggugah.

“Jika diibaratkan bertamu, Tuhan akan menerima tamu-tamu dengan berbagai cara. Ada yang diterima di teras atau di ruang tamu secara massal. Tetapi ada juga yang diterima di kamarNya yang paling pribadi”.

“Di rumah ini tidak ada uang, hanya ada Allah. Jadi jangan bicarakan uang, mari kita bicarakan Allah saja”.

Istri dan anak-anak saya mengingat dengan baik adegan yang penuh dengan kata-kata bijak semacam itu. Sederhana dan biasa saja kata-kata itu. Tapi Dedy Mizwar memberinya konteks adegan keseharian yang pas, hingga kata-kata itu menggetarkan sekali. Barangkali sama menggetarkannya dengan poster iklan A Mild yang isinya penanggalan bolong-bolong di bulan puasa.

Tapi Dedy bisa terjebak juga. Di Para Pencari Tuhan Jilid 2 itu, dia terlalu banyak bicara dan berkhotbah. Kata-kata bijak itu jadi tampak verbal, dan garing. Meskipun tentu saja belum severbal ustad dan para pengkhotbah.

Selasa, 30 September 2008, malam menjelang Hari Raya Idul Fitri 1429 H, telepon genggam saya dibanjiri puluhan pesan pendek. Beragam isinya. Ada pesan standar semacam”Selamat Idul Fitri 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin”, ada yang “serius” mendoakan keselamatan dan keberkahan.

Ada juga yang unik semacam pesan Acok, sahabat saya pegiat pemberdayaan anak jalanan di Bandung: “Smg ramadhan kmrn mnjd BBM (Bln Barokah dan Maghfiroh), stlh berPREMIUM (Prei Makan dan Minum), agr ttp SOLAR (Slt yang Rajin) utk mendptkn MINYAK TANAH (Meningktkn Iman yg Byk, Tahan Nafsu dan Amarah), demi mencpai PERTAMAX (Perangi Tabiat Maxiat)”.

Ada lagi yang puitis. Seperti ini: “Melebur kesalahan tak semudah mengeringkan air dari wajah yang basah. Tapi membuka hati untuk ikhlas memaafkan akan meringankan langkah sepanjang jalan hidup”. Atau juga yang ini: “kebenaran tidak mengajarkan apa-apa, kesalahanlah yang mengajarkan banyak hal”.

Saya sendiri memutuskan untuk mengirimkan pesan yang agak “sekuler”, kutipan sajak pendek penyair Sitor Situmorang: “Malam lebaran, bulan di atas kuburan”.