You are currently browsing the category archive for the 'Daily Life' category.
Dedy Mizwar, aktor besar itu, bisa terjebak juga. Selama bulan puasa 1429 H, saya kira sinetron garapannya, Para Pencari Tuhan Jilid 2, tak sebaik edisi pertama. Masih menarik memang. Saya masih melihat Islam yang hidup, Islam yang santai, sederhana, dan menggugah.
“Jika diibaratkan bertamu, Tuhan akan menerima tamu-tamu dengan berbagai cara. Ada yang diterima di teras atau di ruang tamu secara massal. Tetapi ada juga yang diterima di kamarNya yang paling pribadi”.
“Di rumah ini tidak ada uang, hanya ada Allah. Jadi jangan bicarakan uang, mari kita bicarakan Allah saja”.
Istri dan anak-anak saya mengingat dengan baik adegan yang penuh dengan kata-kata bijak semacam itu. Sederhana dan biasa saja kata-kata itu. Tapi Dedy Mizwar memberinya konteks adegan keseharian yang pas, hingga kata-kata itu menggetarkan sekali. Barangkali sama menggetarkannya dengan poster iklan A Mild yang isinya penanggalan bolong-bolong di bulan puasa.
Tapi Dedy bisa terjebak juga. Di Para Pencari Tuhan Jilid 2 itu, dia terlalu banyak bicara dan berkhotbah. Kata-kata bijak itu jadi tampak verbal, dan garing. Meskipun tentu saja belum severbal ustad dan para pengkhotbah.
Selasa, 30 September 2008, malam menjelang Hari Raya Idul Fitri 1429 H, telepon genggam saya dibanjiri puluhan pesan pendek. Beragam isinya. Ada pesan standar semacam”Selamat Idul Fitri 1429 H, Mohon Maaf Lahir Batin”, ada yang “serius” mendoakan keselamatan dan keberkahan.
Ada juga yang unik semacam pesan Acok, sahabat saya pegiat pemberdayaan anak jalanan di Bandung: “Smg ramadhan kmrn mnjd BBM (Bln Barokah dan Maghfiroh), stlh berPREMIUM (Prei Makan dan Minum), agr ttp SOLAR (Slt yang Rajin) utk mendptkn MINYAK TANAH (Meningktkn Iman yg Byk, Tahan Nafsu dan Amarah), demi mencpai PERTAMAX (Perangi Tabiat Maxiat)”.
Ada lagi yang puitis. Seperti ini: “Melebur kesalahan tak semudah mengeringkan air dari wajah yang basah. Tapi membuka hati untuk ikhlas memaafkan akan meringankan langkah sepanjang jalan hidup”. Atau juga yang ini: “kebenaran tidak mengajarkan apa-apa, kesalahanlah yang mengajarkan banyak hal”.
Saya sendiri memutuskan untuk mengirimkan pesan yang agak “sekuler”, kutipan sajak pendek penyair Sitor Situmorang: “Malam lebaran, bulan di atas kuburan”.
Ada hal yang yang membuat pulang kampung saya minggu lalu terasa lebih dari biasanya. Yaitu petuah Sutaryo, paman saya yang juga carik desa soal demokrasi.
Dia bilang begini. Bahkan Tuhan pun sangat demokratis. Lihat kasus Isra Mi’raj. Ketika mi’raj, awalnya Tuhan memerintahkan shalat sebanyak 50 (?) rakaat. Kanjeng Nabi Muhammad manawar jumlah rakaat itu diturunkan dengan alasan umat Muhammad tidak akan kuat. Tawar menawar itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya disepakati shalat hanya 5 rakaat.
Dia meneruskan. Kau tahu, katanya. Bahkan Muhammad juga menziarahi ruh-ruh para nabi terdahulu, untuk sekedar bertanya berapa kira-kira jumlah rakaat yang pas untuk umatnya. Apa artinya? Artinya adalah pemimpin itu ada baiknya bertanya kepada pemimpin terdahulu kalau mau melakukan sesuatu. Sekarang mana ada presiden yang mau berbaik-baik dengan presiden terdahulu?
Hmmm, mengingatkan saya pada Wimar Witoelar.
Inklusif dalam pergaulan kemasyarakatan, eksklusif dalam hidup keberagamaan
Saya senang tinggal di tempat yang sekarang: RT 01 Rw 09, Komplek Griya Bandung Indah, Blok G1 No. 10, Bandung. Salah satunya adalah karena saya punya banyak teman aktivis Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beberapa diantara mereka malah pejabat teras, baik di wilayah, maupun cabang partai.
Lebih dari setengah warga RW 09 saya kira adalah simpatisan PKS. Pada Pemilu 2004 yang lalu, PKS menang telak di sini, begitu juga pasangan gubernur Jabar sekarang, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.
Paling tidak sebulan sekali, saya bersih-bersih selokan bersama warga PKS. Makan bareng kalau ada hajatan. Saya satu tim bola voli dengan mereka, main kompak, dan konon cukup disegani tim bola voli RT lain. Istri saya rutin mengaji bersama ibu-ibu anggota partai ini juga, arisan, atau sekedar kumpul-kumpul. Anak-anak saya bersahabat karib dengan anak seorang pengurus partai ini.
Dalam urusan pergaulan kemasyarakatan memang hebat betul teman-teman dan tetangga saya itu. Selama dipegang teman-teman PKS, RT saya mungkin menjadi RT paling aktif. Mereka cepat sekali memberi informasi apapun soal layanan publik desa. Tidak ada sepeserpun uang kas RT yang tidak kami tahu kemana larinya. Cara mereka berbicara dan memimpin rapat sangat rapi dan santun. Demokratis dan terbuka benar.
Tapi istri saya punya pengalaman tidak enak dengan ibu-ibu pengajian yang nota bene aktivis dan atau istri aktivis PKS. Saya sudah lupa pengalaman itu. Tapi ketika istri saya menceritakannya kepada saya, saya ingat saya sempat berfikir: PKS inklusif dalam pergaulan kemasyarakatan, tetapi eksklusif dalam hidup keberagamaan. Saya berharap pikiran ini keliru.
Selasa, 27 Mei 2008, beberapa hari setelah harga BBM resmi dinaikkan. Saya mengurus KTP yang hilang di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ara (42 tahun), staf kecamatan di loket KTP bilang perlu waktu dua sampai tiga hari. “Minggu-minggu ini banyak orang antri KTP, pak. Dalam sehari rata-rata ada 200 orang pemohon KTP baru. Biasanya antara 10-25 orang per hari. Soalnya ini musim BLT (bantuan langsung tunai)”.
Ada apa gerangan? Adakah hubungan antara pengucuran BLT dengan kenaikan permohonan pembuatan KTP baru? Mengapa untuk mengurus KTP orang-orang harus menunggu hingga musim BLT tiba? Jumlah orang miskin bertambah dengan adanya BLT?
Hari-hari ini saya mendengar banyak pejabat berdebat soal data penduduk miskin yang keliru, dan siapa sebenarnya orang yang paling berhak memeroleh BLT. Tahun 1998-1999, kawan saya, Rahardian, bersama Gerakan Bandung Peduli punya pengalaman membagi bantuan beras lewat masjid dan tokoh-tokoh agama di tingkat desa. Mereka mendefinisikan siapa yang pantas diberi bantuan dengan menggunakan kategori “fakir miskin yang mendapatkan zakat pada Bulan Ramadhan tahun lalu”.
Saya kira itu strategi yang baik.

Komentar Terakhir