Episode Stasiun


kubaca air matamu
pada hujan di kaca jendela,
seperti musim bergerak
mengabadikan kecemasan,
diam-diam kutulis sajak tentang ladang
yang ditinggalkan.

kita pernah saling bermimpi, membangun rumah
dan menyalakan matahari di beranda. kita tulis alamat
dan kartu-kartu nama dalam senja yang membeku.

seperti biasa engkau menari
bersama guguran gerimis hingga pendar bulan
habis cahayanya dalam gaunmu.

Bandung, 1993-1995

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s