Martina Walelo, Perempuan dari Jantung Papua

Martina Walelo. Dia perempuan asli Wamena. Wamena Lembah tepatnya, suatu daerah di Kabupaten Wamena yang konon tak pernah tersentuh pikiran modern. “Orang Wamena lembah, seberapapun jauh dia pergi, dan setinggi apapun pendidikannya, begitu dia kembali dia akan menjadi Wamena asli”. Modern atau tradisional itu cuma persepsi, Martina. Begitu kata Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan.

Lengannya berotot, matanya tajam. Posturnya mengingatkan saya pada percakapan Hildegaard dan Rahadi dalam novel klasik YB Mangunwijaya, Romo Rahadi: “Papua tidak butuh orang-orang cantik seperti kamu. Yang dibutuhkan adalah perempuan-perempuan buldozer atau gembala-gembala babi sekuat raksasa yang sanggup bekerja kotor”.

Romo Mangun keliru. Martina kekar memang, tapi jelas dia bukan buldozer atau gembala babi. Pikirannya cerdas alami, dan bertenaga. Pikiran yang keluar dari hati, atau orang-orang yang mengalami haru biru peristiwa hidup, biasanya akan bertenaga dan sering tak terbantah.

Sepanjang membahas RTL, dia yang suaranya paling keras mengkritik capaian program yang cenderung menomorsatukan jumlah. Ben dan teman-teman pengelola program YKB harus berpikir keras menghadapi banyak pertanyaannya.

Tapi saya kira hatinya lembut. Dia biasa diam dan menyimak saja. Tapi jangan sekalipun Anda mengeluarkan kata-kata, persepsi, atau pikiran yang bernada menyingkirkan perempuan atau simbol-simbol komunitasnya. Banyak juga orang seperti Martina. Sipri, Arnold, Theo adalah beberapa diantara yang punya kecerdasan alami seperti itu. Saya jadi berpikir, ada kecerdasan alami dan kecerdasan bentukan. Kecerdasan kita, kalau punya, adalah kecerdasan bentukan, kecerdasan yang tumbuh karena keberlimpahan sarana dan fasilitas. Sebaliknya kecerdasan Martina, Sipri, Arnold, dan Theo adalah kecerdasan yang lahir karena bentukan alam yang keras dan naluri bertahan hidup.

Melihat dan mendengar Martina, saya baru bisa memahami apa yang dirasakan almarhum Harry Roesli ketika mementaskan “Asmat Dream” di Amerika tahun 1980-an.

*) Tulisan ini catatan lapangan sewaktu saya memfasilitasi pelatihan fasilitasi kegiatan diskusi bersama masyarakat dalam Program Promosi Kesehatan Seksual, Yayasan Kesehatan Bethesda, Papua, Februari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s