Sekolah, Parfum, dan Obat Kuat

Catatan tentang Iklan Pendidikan di Bandung

poster-promosi-perguruan-tinggi-1.jpgAnda ingin tahu kultur pendidikan kota Bandung sekarang? Tidak perlu menjadi pakar untuk bisa melakukan ini. Cukup dengan akal sehat dan ikut saran Stephen Kline dalam bukunya The Play of Market: On the Internationalization of Children’s Culture (1995). Atau membaca-baca pikiran para penghayat cultural studies, mulai dari Yasraf A Piliang yang dosen ITB itu hingga Baudrillard. Mereka memberikan petunjuk tentang bagaimana tabiat dan kultur sebuah masyarakat, termasuk kultur pendidikan, bisa dilihat dari iklan.

Promosi Sekolah

Tapi kalau masih sulit juga, mulailah dengan cara gampang ini. Naiklah angkot Jurusan Stasiun Hall- Gedebage, atau Jurusan Cijerah-Ciwastra. Kalau sempat, Anda juga bisa perhatikan tembok atau tiang listrik di sekitar perempatan lampu merah. Atau sesekali Anda mutar-mutar di sejumlah kompleks perumahan di tengah kota.

Di pintu angkot biasanya tertempel stiker seukuran kartu remi atau kartu pos bertuliskan kalimat-kalimat seperti: “kuliah cepat, sarjana dapat, bebas absen, hubungi nomor telepon sekian”. Jangan salah, ini stiker iklan perguruan tinggi, meskipun nama perguruan tingginya tak tercatat dan misterius. Menarik bahwa seringkali iklan ini berendeng dengan stiker iklan obat kuat, dan pengobatan alternatif berukuran serupa.

Di tembok-tembok pinggir jalan atau di komplek-komplek perumahan mungkin Anda akan menemukan poster berbunyi “3 tahun dapat SE (Sarjana Ekonomi)” atau “3,5 juta dapat SH (Sarjana Hukum)”. Kalau poster itu berjajar bersama dengan iklan rokok, parfum, dan sabun mandi, Anda mesti sedikit berhati-hati. Salah-salah Anda akan menduga sekolah sama dengan rokok dan minyak wangi.

Stiker dan poster-poster itu biasanya bertambah banyak pada musim-musim penerimaan mahasiswa baru. Pada musim-musim begini, isi stiker makin heboh: “gratis biaya pendaftaran bagi pendaftar sebelum tanggal sekian”.

poster-promosi-perguruan-tinggi-2.jpgBisnis Pendidikan

Tidak ada yang salah dengan iklan dan promosi-promosi sekolah macam itu. Itu cara legal bagi setiap sekolah atau perguruan tinggi untuk menjual bangku, dan merayu orang tua murid. Namanya juga usaha. Apalagi sekarang jamannya privatisasi pendidikan: subsidi negara dihentikan, dan lembaga-lembaga pendidikan (tinggi) harus pintar mencari uang sendiri. Jalan pintas paling mudah adalah menjaring murid sebanyak mungkin. Dan ketika sudah terjaring, mereka harus “diperas” dengan aneka pungutan.

Lalu apa artinya? Para penghayat cultural studies mengatakan, iklan-iklan itu bisa menjadi pertanda sedang berlangsungnya pertempuran antar nilai pendidikan. Ada nilai-nilai yang sedang diluruhkan, dan ada nilai-nilai baru yang sedang dibangun. Lalu nilai-nilai pendidikan apa yang sedang diluruhkan dan dibangun?

Ialah bahwa kerja-kerja pendidikan tak lagi dimaknai sebagai kerja-kerja pembentukan karakter, pencerdasan, atau pemerataan akses dan kesempatan belajar misalnya. Lembaga pendidikan sudah sangat otonom, dalam pengertian negatif sudah tidak lagi punya urusan dengan kerja-kerja begituan. Itu kerja-kerja idealis yang sudah lapuk.

Sekarang sekolah memiliki kepentingannya sendiri yang jauh dari urusan substansi pendidikan: memburu rente dengan memobilisasi dana pendidikan masyarakat, menjadi lembaga bisnis dan berdagang bangku. Lembaga pendidikan adalah pasar, tempat guru dan orang tua murid saling bertransaksi. Dan, dinas pendidikan adalah pegawai bursa efek yang mengatur lalu lintas transaksi. Tak lebih dari itu.

Tak ada bedanya antara lembaga pendidikan dengan mie instan, obat kuat, rokok, atau sabun mandi. Untuk menggondol gelar Sarjana Ekonomi, orang tak butuh ketekunan dan ujian. Lembaga pendidikan tidak menawarkan proses pembelajaran dan visi akademik. Yang ditawarkan adalah bebas absen, gratis bagi pendaftar sebelum tanggal sekian, tak perlu datang kuliah setiap waktu, dan cukup setor uang 3,5 juta.

poster-promosi-perguruan-tinggi-4.jpgTanah Subur

Lagi-lagi lembaga pendidikan tidak sepenuhnya salah. Iklim kapitalisasi pendidikan itu tumbuh karena masyarakat sendiri menyiapkan lahan yang subur untuk itu. Sebenarnya orang sudah tahu bahwa lembaga pendidikan (formal) itu tak terlalu berguna. Orang tua murid selalu cemas ketika mengantar atau melepas anak-anak mereka berangkat ke sekolah. Tetapi entah mengapa mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar pungutan-pungutan sekolah yang tak selalu bisa dipertanggungjawabkan. Orang tua mahasiswa di kampung-kampung rela menjual sumber-sumber mata pencahariannya: kerbau, sapi, sawah, dan ladang, hanya untuk mengirim anak-anak mereka bersekolah ke Bandung.

Salah satu penjelasan yang paling mungkin adalah karena kuatnya keyakinan di kalangan orang tua murid dan mahasiswa bahwa sekolah atau perguruan tinggi adalah lembaga netral yang bebas dari kontaminasi politik dan bisnis. Juga keyakinan bahwa ijazah dan gelar adalah satu-satunya tiket untuk bisa hidup. Ini keyakinan klasik ala kultur pendidikan jaman Belanda dulu ketika sekolah dipandang sebagai tiket menjadi ambtenaar, para priyayi. Orang harus bersekolah dengan cara apapun, karena sekolah adalah ekskalator yang bisa mendongkrak martabat sosial keluarga, tidak peduli menjadi aparat ideologi negara sekalipun.

Dari perspektif ini, kita bisa memandang mahasiswa IPDN yang sedang tertimpa masalah itu dengan rasa iba. Tanpa bermaksud memaafkan berbagai kekerasan yang sudah terjadi, mereka bisa dilihat sebagai anak-anak muda yang punya banyak beban, dan mengalami penindasan berkali-kali. Di keluarga, mereka harus mengembalikan investasi pendidikan yang sudah disetor orang tuanya. Yang paling penting adalah setoran martabat priyayi itu. Sementara di kampusnya, mereka ditindas oleh berbagai kekerasan yang terstruktur dan sistematis. Tak apalah anak-anak dikerasi sedikit atau bayar saja pungutan-pungutan itu, toh semua itu untuk kepentingan anak-anak kita sendiri. Kurang lebih begitu pikiran orang tua murid.

Tapi tidak benar juga kalau dikatakan orang tua murid sangat peduli pada pendidikan anak-anak mereka. Kalau Anda berlangganan koran, coba perhatikan isi surat pembaca selama 1 minggu. Hitunglah berapa surat-surat pembaca yang menyoal buruknya kualitas pelayanan pendidikan. Lalu bandingkan dengan surat-surat berisi keluhan tentang, misalnya pelayanan perbankan yang tidak memuaskan, ditipu oleh perusahaan pengembang, es krim yang berbau busuk, atau kartu kredit yang macet. Jangan kaget kalau Anda akan memperoleh gambaran yang mungkin mengejutkan. Ternyata orang lebih peduli kepada barang atau jasa-jasa konsumsi, dari pada bersuara kritis atas pelayanan pendidikan dan pungutan-pungutan. Pungutan, korupsi di lembaga pendidikan, dan kekerasan berjalan terus karena kultur bisu masyarakat.

Begitulah. Iklan-iklan pendidikan cuma menegaskan apa yang sebenarnya sudah sering dikeluhkan banyak orang. Bahwa nilai-nilai pendidikan sedang berubah, dan semua perubahan itu menuju kepada penguatan budaya material dan konsumtif. Menurut para pengkaji cultural studies, inilah yang paling mengerikan. Karena ketika konsumerisme dominan, menjadi kabur batas-batas kultural dan komersial. Itu pertanda kapitalisme sudah berada pada tingkat lanjut dan akut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s