AIDS Papua (1)

Gerry dan Theo simulasi materi “Berganti-ganti Pasangan”. Gerry bagikan selembar kertas berisi cerita tentang kehidupan muda-mudi yang suka berganti-ganti pasangan. Banyak peserta tidak paham dengan pilihan kata dalam kertas itu. Waktu habis untuk menjelaskan maksud cerita itu, peserta mengantuk, dan bingung menebak arah pembicaraan mereka.

Gerry dan Theo jelas dipersulit oleh media yang dibuatnya sendiri. Saya kira itu potret telanjang dari orang yang memandang media sebagai tujuan. Sama seperti SAP, media juga alat. Kalau memang tidak efektif dan mengganggu proses diskusi, buang saja. Tidak harus ada media, kalau Anda tidak bisa menggunakannya.

Paul dan Sarah menghitung. Perlu uang 600-700 ribu hanya untuk memutar sebuah film tentang HIV/AIDS berdurasi 38 menit. Film itupun belum teruji apakah bisa diterima di kalangan orang]orang Wamena misalnya, karena jalan cerita terlalu hollywood dan artificial. “Film itu kurang keras”, begitu kata Yo.

Mungkin kita harus memformat ulang kurikulum dan pelatihan teknik fasilitasi, terutama pada saat materi penggunaan media. Entah bagaimana caranya. Memang ditekankan bahwa media itu cuman alat saja. Tetapi atmosfer pelatihan dengan ATK begitu lengkap, metaplan berwarna-warni, spidol, plano, dan contoh]contoh media pembelajaran tidak mengatakan demikian. Perlengkapan macam itu memudahkan kita memfasilitasi, tetapi secara tidak disadari mengkondisikan peserta begitu rupa untuk berfikir sebaliknya.

2 thoughts on “AIDS Papua (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s