AIDS Papua (2)

Kamis, 8 Februari 2007. Jam 18.00 WITA. Hari itu giliran saya mendampingi Frans, DLO Abepura, mendiskusikan hasil-hasil pelatihan tempo hari dengan CL dan jemaat remaja. Ada Welly, Sara, Robert, Ivone, Desi, Jacklyn, Irene, dan beberapa jemaat muda.

Mungkin karena Frans kecapekan seharian mengurus upacara penguburan bude-nya, di tengah diskusi dia agak belepotan. Saya kemudian mencoba masuk dan menyelamatkannya. Kami ngobrol soal masalah-masalah yang dihadapi CL dan strategi yang harus ditempuh untuk memperluas jemaat.

 

Ujung tombak Program Promosi Kesehatan Seksual adalah CL (church leader). Tetapi entah mengapa, barangkali karena keterbatasan sumberdaya, sentuhan kegiatan peningkatan kapasitas fasilitasi lebih banyak diarahkan ke DLO.

CL kelompok pemuda dampingan Frans ini punya banyak masalah. Saya kira anak]anak muda ini punya niat yang baik, dan mereka sudah membuktikannya. Tapi mereka punya banyak masalah yang tampaknya selama ini luput dari perhatian program.

Irene, dan Desi perlu waktu lama untuk meyakinkan orang tua mereka bahwa kondom yang selalu ada di tasnya itu hanya untuk kepentingan program. Tidak terlalu mudah juga meyakinkan sekolah. Sementara di lingkungan gereja, mereka mendapati anak-anak muda yang menurut mereka apatis karena berbagai alasan.

Welly mencoba menarik perhatian dengan membentuk kelompok vocal group yang setiap dua minggu sekali tampil di beberapa gereja. Materi- materi promosi kesehatan seksual diberikan di sela-sela dan dalam latihan-latihan vocal group ini.

Tapi berapa lama kelompok ini akan bertahan? Ini juga yang menjadi pertanyaan Welly, bagaimana caranya memperluas jemaat yang peduli HIV/AIDS. Kami berdiskusi soal kemungkinan mencari kegiatan yang lebih “menguntungkan” dan “menantang”. Welly, kamu harus bisa menjawab jika ada jemaat muda yang bertanya : apa untungnya masuk dalam kelompok vocal group selain janji bahwa ada sorga di hadapan kita nanti?

Berilah mereka proyek, pekerjaan yang menantang. Kalau ingin bertahan dengan kelompok vocal group, bisakah kalian mencipta lagu-lagu sendiri, dan mengaransir sendiri? Atau membuat lukisan-lukisan kulit kayu, dan dijual di Pasar Hamadi Jayapura? Atau apa sajalah, tetapi musti sesuatu yang mengikat mereka. Tapi gimana caranya meyakinkan gereja tentang ini? Wah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s