Kemiskinan Desa Hutan

Berapa jumlah orang miskin di desa hutan? Dalam Analysis of Population and Poverty in Indonesia Forest (2004) T. Brown mencatat sebanyak 48,8 juta orang Indonesia tinggal di desa hutan, dan 10,2 juta diantaranya hidup dalam kemiskinan. Ini artinya hampir seperempat jumlah orang miskin di Indonesia tinggal di desa hutan.

Tapi ada satu hal yang membuat kemiskinan mengapa kemiskinan di desa hutan harus diperhatikan lebih saksama. Yakni karena kemiskinan di desa hutan adalah satu jenis kemiskinan yang unik dan “sempurna”. Desa yang bukan desa hutan, meskipun dikategorikan miskin, mungkin masih memiliki infrastruktur yang memadai, relatif bisa mengakses pusat-pusat pelayanan masyarakat yang disediakan oleh pemerintah.

Tetapi sebaliknya dengan desa hutan. Siapa saja yang sering keluyuran keluar masuk desa hutan akan memahami bagaimana kondisi sosial-ekonomi rata-rata masyarakat desa hutan sangatlah mengenaskan. Jauh dari pusat kota, dan sebagian besar terisolasi karena infrastuktur transportasi dan komunikasi yang buruk. Petani sulit menjual hasil panen. Anak-anak harus menempuh jarak yang jauh hanya untuk mengenyam pendidikan dasar. Kematian ibu dan anak tinggi karena sulit menjangkau pusat-pusat pelayanan kesehatan.

Sulitnya sarana transportasi mungkin membuat dinas-dinas pemerintah pembawa program pembangunan malas singgah di desa seperti ini. Banyak usaha-usaha ekonomi produktif dari desa hutan mati sebelum sempat lahir dan berkembang. Sudah miskin, terisolir pula.

Perambahan hutan yang terjadi secara besar-besaran pada masa krisis ekonomi tahun 1998-2001 yang lalu adalah bukti yang tidak terbantah dari kemiskinan ini. Bagaimana mungkin masyarakat desa hutan demikian berani masuk jauh ke dalam hutan, melakukan perambahan dan pencurian kayu secara massif, kalau tidak didorong oleh desakan kebutuhan ekonomi keluarga yang sudah tidak tertahankan?

7 thoughts on “Kemiskinan Desa Hutan

  1. Di Jawa, masalah kemiskinan desa hutan dicoba untuk ditangani dengan konsep Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang belakangan dirubah menjadi PHBM Plus. Dibeberapa tempat, PHBM memang menjanjikan sebuah solusi bagi percepatan pemberdayaan dan pembangunan masyarakat desa hutan. Tapi, di banyak tempat lainnya, PHBM dibiarkan merana, hidup enggan mati pun tak hendak.

    Keberhasilan yang sporadistif itu sangat terkait dengan tingkat pemahaman internal Perum perhutani sendiri. Sehingga, banyak pihak yang kurang yakin dengan keseriusan Perum Perhutani dengan konsep PHBM Plusnya.

  2. Akhirnya kami berhasil menemukan kecemasan tentang profil fasilitator dan program pemberdayaan masyarakat di Indonesia yang dituangkan dalam suatu artikel. Menarik!

    Sebagai informasi, kami beritahukan bahwa artikel ini telah kami lansir untuk ditampilkan di website program pengembangan fasilitator pemberdayaan masyarakat (PFPM), http://www.fasilitator-masyarakat.org

    Best Regards,
    Team KM Program PFPM.

  3. Ping-balik: INFO BAGUS « Relawandesa’s Weblog

  4. kemiskinan terus berlanjut bila masyarakat desa hutan hanya jadi objek proyek pemerintah yang tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi dan harus bagaimana disana.. salut buat mas dwi dengan artikel2nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s