Proyek yang Mematikan Inisiatif Lokal

Hanya Jalan Enam Bulan

Lahan seluas 5 X 10 meter itu sekarang lebih mirip tempat penimbunan sampah liar. Mesin pengolah sampah hilang di curi orang 4 bulan yang lalu.  Kerangka mesin yang tinggal, sekarang berkarat, teronggok di sudut bangunan kecil, ditutup terpal. Timbunan sampah menumpuk dan berceceran hingga sisi jalan utama desa.  Tidak jauh dari lokasi ini, terdapat 13 titik pembuangan sampah penduduk, tersebar di bantaran Sungai Cisangkuy sepanjang 300 meter.

Kecuali bangunan 3 X 4 meter tempat aktivitas pengolahan sampah biasa dilakukan, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa lahan ini adalah lokasi Proyek Percontohan Pengelolaan Sampah, sebuah proyek yang diprakarsai Gerakan Pramuka, Kabupaten Bandung, dan kelompok Pemuda Produktif Sindangreret.

“Proyek ini hanya jalan kurang lebih enam bulan” kata seorang warga. Dulu, sebelum mesin pengolah sampah bantuan Pemda Kab. Bandung dicuri, aktivitas pengelolaan sampah berjalan lancar.  Remaja Masjid dan Karang Taruna yang mengelola kegiatan ini bisa memproduksi 50 kg kompos per minggu. Di jual Rp. 2000 per kilogram kepada petani setempat.  “Setelah itu mati seperti sekarang ini”, kata Kepala Dusun Sindangreret.

Inisiatif Lokal

Proyek ini diluncurkan di RW 08 Desa Sukasari bukan tanpa sebab. Jauh sebelum proyek turun, RW ini dikenal telah memiliki inisiatif dan kultur pengelolaan sampah yang kuat.  Meskipun rata-rata keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang pemilahan sampah, tetapi mereka rajin membayar iuran sampah yang ditetapkan RW setempat. Untuk mengangkut sampah dari rumah warga, mereka mampu membayar Rp. 10.000 per dua hari kepada tenaga pengangkut sampah.

Inisiatif itulah yang mendorong Pemda Kabupaten Bandung meluncurkan proyek ini pada akhir tahun 2006. Proyek datang dalam bentuk bantuan mesin pengolah sampah, sapu lidi, roda pengangkut sampah, pengki dan gacok (garpu).

Warga mengakui kehadiran proyek itu sempat membuat mereka bergairah. Kesadaran bahwa sampah adalah masalah sosial yang besar mulai tumbuh. Masyarakat tak perlu lagi membuang sampah ke bantaran Sungai Cisangkuy. Pengangkut sampah senang karena banyak keluarga yang secara sukarela memberi tips kepada mereka. Anggota Karang Taruna dan Remaja Masjid Sindangreret punya kegiatan produktif yang baru. Para pemulung bisa bekerja memungut sampah plastik, kertas, dan kaleng. Mesin pengolah sampah berproduksi terus, bahkan pernah mendatangkan beberapa truk daun kol dari Arjasari untuk diolah menjadi kompos.

Tidak Lagi Bergairah

Setelah mesin dicuri dan aktivitas proyek mati, entah mengapa inisiatif lokal pun turut melempem. Iuran sampah tidak lagi berjalan. Pengurus RW malu untuk menagih iuran karena tak ada lagi aktivitas mengangkut dan mengolah sampah seperti dulu. Pemerintah juga desa enggan turun tangan.

Produksi sampah rumah tangga yang mencapai 2 kg per hari, ketiadaan tempat pembuangan sampah yang memadai, plus berhentinya proyek pengelolaan sampah ini mendorong munculnya tempat-tempat pembuangan sampah yang bertebaran di di bantaran Sungai  Cisangkuy. Masalah inilah yang menggelisahkan banyak tokoh masyarakat dalam pertemuan mereka 6 Desember 2007 yang lalu.

Akan halnya lokasi pengolahan sampah, kini sudah berubah menjadi tempat pembuangan sampah liar. Tidak hanya bagi penduduk Desa Sukasari, tetapi juga desa-desa tetangga seperti Desa Rancaengang dan Bojongpulus. Lokasi pengolahan sampah yang berada persis di sisi jalan membuat siapa saja dengan mudah membuang sampah di sini. Beberapa tukang ojeg yang mangkal 5 meter dari lokasi,  memberikan kesaksian dalam sehari ada ratusan kantong keresek berisi sampah dilempar orang dari desa sebelah.

Kematian proyek yang dipicu oleh pencurian mesin pengolah sampah membuat beberapa tokoh masyarakat menimbang-nimbang kelemahan proyek ini. Berikut adalah daftar komentar mereka.

“Proyek ini memang dilepas begitu saja. Pemerintah Kabupaten Bandung hanya memberikan alat-alat, dan uang untuk membeli mesin. Mungkin karena mereka percaya kita bisa mengelola ini”. “Sosialisasi kepada warga masyarakat hanya sebentar ”. “Walaupun ada proyek dan inisiatif lokal sudah ada, sebenarnya perilaku masyarakat juga belum baik. Sampah rumah tangga tetap dicampur, karena mereka mengandalkan pemulunglah yang akan memilah di lokasi proyek”. “Mestinya ada monitoring”. “RW sudah menempatkan dua tenaga keamanan untuk menjaga mesin. Pencurian mesin ini benar-benar kecelakaan”.  “Harus menyeluruh dan serentak, terutama untuk desa-desa atau lokasi yang berdekatan. Bisa saja di RW ini ada proyek, tetapi kalau di Rancaengang atau di Bojongpulus nggak ada, warga mereka akan membuang sampah seenaknya di tempat kita”. “Wajar kalau tenaga tenaga keamanan malas, karena mereka tidak diberi insentif”. “Dulu warga dan anak-anak muda itu mau mengangkut sampah dengan sukarela. Setelah ada proyek, mereka meminta upah mengolah sampah. Wajar juga karena mereka melakukannya setiap hari. Sekarang kan semua semua yang menggunakan kata “proyek”, bayangannya pasti ada uangnya”. ***

7 thoughts on “Proyek yang Mematikan Inisiatif Lokal

  1. Salam kenal pak.. saya senang membaca tulisan2 bpk yg begitu jujur.. kebetulan saya aktif di organisasi pemuda yang ingin terjun lebih dalam lagi ke wilayah pemberdayaan masyarakat, bisa qt diskusi lebih lanjut pak?

  2. Ping-balik: Proyek yang Mematikan Inisiatif Lokal « Studi Terpadu Komunikasi Pembangunan

  3. Ping-balik: Proyek yang Mematikan Inisiatif Lokal | eSKIP – Studi Terpadu Komunikasi Pembangunan

  4. ass pak joko, sy ridwan FK PKOD-ADD 2011 pak, sy sgt tertarik dgn artikel2 yg bpk buat. sy sgt ingin sharring dan belajar mengenai pemberdayaan masyarakat sm bpk, kpn2 sy mampir ya pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s