Gowes di Atas Hamparan Beton

Jalan ini tidak bernama. Tapi orang kerap menyebutnya Cipamokolan, meskipun tidak tepat benar karena Cipamokolan lebih menunjuk kepada nama kampung. Lebarnya tiga meteran, terhitung mulus dengan badan beton bertulang. Panjangnya sekira 4 kilometer, melintas membelah pesawahan dan perkampungan penduduk dari Jalan Margacinta menuju Jalan Soekarno Hatta.

Saya termasuk penyusur setia jalan ini sejak lima tahun lalu. Hampir setiap hari saya mengantar dua anak saya ke sebuah sekolah di Jl. Soekarno Hatta, tepat di belakang RS Al Islam. Di atas motor, kami bertiga suka bercerita tentang sawah, padi, dan kebun kakek di kampung.

Karena rutin melewati jalan ini kami bisa melihat nasib petak sawah di kanan kiri jalan. Suatu pagi, sebuah petak masih dipenuhi tanaman padi. Seminggu kemudian sudah rata diurug. Tak lebih dari dua bulan sudah tumbuh beton dan petak-petak rumah warna-warni. Minggu ini buldoser meratakan tanah di sini, dua minggu kemudian di petak sebelah sana.

Jadi istilah “membelah pesawahan dan perkampungan penduduk” sebenarnya tidak cocok untuk melukiskan Jalan Cipamokolan sekarang. Istilah itu hanya pas untuk menggambarkan jalan ini lima tahun lalu ketika dari Jalan Margacinta, dalam jarak 3 kilometer, saya masih bisa melihat atap RS Al Islam. Hanya ada sawah, dan beberapa gerombol rumah penduduk yang tersebar di sana sini. Lima tahun lalu jalan ini masih cukup sepi, dan saya masih bisa melihat orang di pinggir sawah berkerudung sarung di awal pagi. Hari-hari ini, dari atas sepeda, saya lebih suka menyebut jalan ini membelah hamparan beton.

Jalan ini memang mulus. Sepeda jenis hybrid seperti Heist 4,0 lebih enak melibas beton Cipamokolan sekarang dibandingkan jalan kampung beraspal rusak seperti lima tahun lalu.

Tetapi daripada menikmati gowesan halus sepeda jenis ini, rasa merdeka di atas sadel membuat saya lebih tertarik untuk suatu ketika mencari tahu tentang riwayat kepemilikan tanah-tanah sawah di Cipamokolan. Sawah-sawah yang sudah menjadi ladang beton itu milik siapa? Bagaimana tanah ini di jual, kepada siapa, dan dengan harga berapa? Berapa harga jual rumah di kompleks-kompleks perumahan Cipamokolan? Kalau sawah itu sawah warisan, apa yang membuat para pewaris begitu cepat menjual lahan-lahan produktif itu? Apa pekerjaan pemilik sawah sekarang? Di mana mereka tinggal?

Di atas sadel, dengan rasa merdeka dan keriangan kanak-kanak, apa yang tidak mungkin dijawab? Sebagai referensi pendahuluan, saya mau membaca lagi hasil penelitian Martin van Bruinessen, antropolog Belanda, soal pergeseran kepemilikan tanah di Kampung Sukapakir, konon kampung termiskin di Kota Bandung. Minggu depan saya mau menggowes ke sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s