Obral Sekolah di Jalan Raya

Lembaga pendidikan ternyata tidak ada bedanya dengan obat kuat, jasa sedot kakus, atau badut sulap. Kalau tidak percaya main dan bersepedalah di Bandung. Di kota ini perguruan tinggi dan sekolah mempromosikan diri  dengan modus yang sama, yakni menempel poster di batang-batang pohon, tembok, tiang-tiang listrik di jalan raya, atau stiker-stiker seukuran kartu pos di pintu-pintu angkutan kota.

Mereka juga mencitrakan dirinya sama seperti tukang obral barang kelontong. Misalnya, dengan cara ugal-ugalan sebuah perguruan tinggi memasang stiker bertuliskan  ”Kuliah cepat, sarjana dapat” bahkan “Ingin kuliah enak? Boleh masuk seenaknya. Bebas absen. Gak direpotin oleh tugas-tugas, bahkan tak perlu susun skripsi. Hubungi (022) 703xxxxx”. Atau bunyi poster yang mirip teriakan tukang obat di Pasar Baru: “3 tahun dapat SE (Sarjana Ekonomi)”,”3,5 juta dapat SH (Sarjana Hukum)”,  ”S1 = 3 tahun, D3 = 2 tahun, D1 = 8 bulan” atau ”S1 = 2,8 tahun”.

Pada musim-musim penerimaan mahasiswa baru, isi stiker biasanya makin gila: “gratis biaya pendaftaran bagi pendaftar sebelum tanggal sekian”, “membuka kelas weekend”, “rute kampus dilalui angkutan umum” dan kata-kata sejenisnya.

Siapa gerangan orang yang mudah terperangkap iming-iming instan macam “3 tahun jadi sarjana” itu? Mungkin mereka adalah orang-orang desa yang tidak punya akses terhadap informasi pendidikan. Jadi, bukan kebetulan kalau poster-poster ini lebih banyak ditempel di jalan-jalan di pinggir kota. Sungguh akal bulus bisnis pendidikan yang cerdik.

Rupanya, trend macam ini tidak hanya menggejala di kota saya. Saya sempat melihat sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta mengiklankan diri di beberapa stasiun televisi. Mereka mengiming-imingi calon mahasiswa baru dengan “ruangan berpendingin”.

Pemburu Rente

Cara-cara promosi macam itu tentu tidak haram. Itu cara legal bagi setiap sekolah atau perguruan tinggi untuk menjual bangku, dan merayu orang tua murid. Namanya juga usaha. Apalagi sekarang jamannya privatisasi pendidikan: subsidi negara dihentikan, dan lembaga pendidikan harus pintar mencari uang sendiri. Jalan pintas paling mudah apalagi kalau bukan menjaring murid sebanyak mungkin dengan cara apapun?

Tapi iklan-iklan ini benar-benar mengganggu pikiran saya. Dulu mana ada sekolah mempromosikan diri dengan modus dan cara-cara yang mirip perusahaan jamu. Sekarang sekolah rupanya memiliki kepentingannya sendiri yang jauh dari urusan substansi pendidikan. Urusan lembaga pendidikan utamanya adalah  memburu rente dengan memobilisasi dana pendidikan masyarakat, menjadi lembaga bisnis dan berdagang bangku. Kualitas pembelajaran adalah soal nomor sekian.

Iklan-iklan ini pertanda bahwa mendidik tak lagi dimaknai sebagai kerja-kerja pembentukan karakter, pencerdasan, atau pemerataan akses dan kesempatan belajar misalnya. Lembaga pendidikan sudah tidak lagi punya urusan dengan kerja-kerja begituan. Itu kerja-kerja idealis yang spiritnya hanya bisa ditemukan di kuburan Ki Hajar Dewantara atau Multatuli.

Budaya Bisu

Tapi pengusaha pendidikan tidak salah juga. Tanpa sadar masyarakat menyiapkan lahan yang subur untuk tumbuhnya iklim komersialisasi pendidikan itu. Misalnya, mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar pungutan-pungutan sekolah yang tak selalu bisa dipertanggungjawabkan. “Mana mungkin ada korusi di sekolah. Biarkan saja, toh pungutan itu untuk kepentingan anak kita juga”, begitu bisik-bisik yang sering saya dengar dalam rapat-rapat komite sekolah.

Masyarakat masih yakin sekolah adalah lembaga yang steril dari kontaminasi politik dan bisnis. Ijazah dan gelar adalah satu-satunya tiket untuk bisa hidup. Orang harus bersekolah dengan cara apapun, karena sekolah adalah ekskalator yang bisa mendongkrak martabat sosial keluarga. Jadi kalau ada yang menawarkan sarjana instan dan murah, kenapa tidak?

Saya jadi ingat cerpen AA Navis, judulnya “Robohnya Surau Kami”. Dari atas sepeda, saya menyaksikan spirit pendidikan roboh di jalan raya. Untuk menggondol gelar Sarjana Hukum, orang tak butuh ketekunan dan ujian. Lembaga pendidikan tidak menawarkan proses pembelajaran dan visi akademik. Yang ditawarkan adalah bebas absen, gratis bagi pendaftar sebelum tanggal sekian, tak perlu datang kuliah setiap waktu, dan cukup setor uang seharga sepeda saya: 3,5 juta!

One thought on “Obral Sekolah di Jalan Raya

  1. Tulisan bagus yg menampar kita utk segera berbenah dan sadar: sudah sedemikian parahkah kondisi pendidikan di negeri yg kita cintai ini? Apa yg harus kita lakukan?

    (Terima kasih atas tulisannya yg mantap)

    Best regard’s

    Tiknyo
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s