Tentang Saya

DSC00908Saya Dwi. Dwi Joko Widiyanto. Saya lahir di sebuah kampung kecil di utara kota Purbalingga, Jawa Tengah.

Punya istri, dan lima anak yang masih kecil-kecil dan bandel. Kerja di Studio Driya Media, sebuah LSM di Bandung yang bergiat dalam program pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat.

Saya gemar menulis. Saya tulis apa saja yang menggelisahkan pikiran. Dari sastra hingga politik, dari pendidikan hingga lingkungan, umumnya untuk konsumsi koran. Saya hidup dari dan diantara kegelisahan-kegelisahan itu.

Saya menganggap menulis itu sebuah cara belajar. Belajar mengorganisir pikiran. Saya punya teman. Seorang petani hutan di Pengalengan. Dalam usia 70 tahun dia masih bertani, dan punya catatan lengkap tentang apa yang dia pikirkan. Untuk saya, ia layak didengar pendapatnya daripada seorang guru besar yang tak pernah menulis.

Saya tidak biasa belajar dengan cara berlama-lama membaca. Kecuali buku yang benar-benar menarik, saya biasa membaca sambil lalu. Saya merasa lebih memahami sebuah persoalan dengan cara menuliskannya. Saya baru tahu bahwa Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi dalam agama saya, konon pernah bilang begini: “ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya”. Saya berfikir, benar juga dia.

Saya alumnus IKIP Bandung, lulus tahun 1995. Tapi sungguh, saya tak patut menjadi guru. Sewaktu kuliah, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus pers mahasiswa, training pers di sana-sini, meliput, dan memimpin redaksi ISOLA POS -koran kampus yang terbit waktu itu. Farid Gaban dan Bambang Bujono – untuk menyebut beberapa redaktur Majalah TEMPO adalah beberapa orang yang mengilhami saya menulis.

mesinketiktua.jpgSelama 2-3 tahun saya membiayai kuliah dengan honor menulis di koran. Pikiran Rakyat Bandung, Bandung Pos, Media Indonesia, Republika, dan Kompas, adalah beberapa koran yang pernah memuat tulisan dan membiayai kuliah saya waktu itu. Saya menyimpan dengan rapi tulisan-tulisan lama itu. Sebagai kenang-kenangan.

Lulus dari IKIP Bandung, saya sempat selama 4 tahun mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung. Dua tahun menangani program anak jalanan bersama seniman Harry Roesli (alm). Hingga hari, sejak 9 tahun yang lalu saya terdampar di Studio Driya Media.